Berhubungan dengan badan dan jiwa, saya diberi tugas untuk membuat dialog mengenai pembahasan ini.
Narator
: “Sahabat.. apakah yang terpikir
oleh Anda jika mendengar kata tersebut? Orang yang selalu berada di sisi Anda
ketika suka dan duka? Orang yang selalu mengerti kondisi Anda walau Anda tidak
mengatakannya? Ya! Semua itu benar. Sahabat merupakan dua badan tetapi menjadi
satu jiwa dengan kita.
Tetapi dua jiwa yang bersahabat
yang dimiliki oleh dua badan pasti akan bersatu layaknya persahabatan antara Badan dan Jiwa. Dimulai dari sebuah perkenalan yang sangat asing hingga
menjadi persahabatan yang tidak pernah putus dan bahkan tidak aka nada seorang
pun yang dapat memisahkan hubungan persahabatan yang terjalin secara alami
tersebut. Walau sangat jarang untuk berkomunikasi, tetapi tali persahabatan itu
tetap terjalin erat. Sampai pada suatu kondisi dan waktu yang membuat kedua
sahabat itu menabrak suatu batu yang mengguncangkan persahabatan mereka..”
Jiwa
“Halo, Badan! Sudah 3 tahun kita
tidak bertemu akhirnya hari ini kita bisa bertemu. Aku senang sekali. Aku sangat
merindukanmu, Badan.”
Badan “Begitukah? Aku juga merindukanmu.” (dengan
nada tidak peduli)
Jiwa “Hey, bagaimana dengan kabarmu? Aku tahu,
kamu pasti akan selalu sehat.”
Badan “Kalau sudah tahu, kenapa masih bertanya?”
Jiwa “Kenapa kamu seperti itu? Aku sangat
merindukanmu, Badan. Aku ingin mendengar seluruh kabar darimu. Kau dan aku ‘kan
selalu bersama ketika dulu.”
Badan “Ya, itu dulu tapi sekarang aku tidak mau
bersama denganmu. Dan kenapa kita harus bersama? Padahal kita itu berbeda dan
sangat berbeda.”
Jiwa “Karena kita adalah satu kesatuan. Makanya
kita akan selalu bersama dan bersahabat.”
Badan “Kenapa begitu? Haruskah kita bersatu dan
bersahabat?”
Jiwa “Iya, kita harus bersatu untuk membentuk
pribadi manusia. Pada dasarnya, manusia sangat membutuhkan kita untuk
kepribadian mereka.”
Badan “Kenapa kita tidak sendiri-sendiri saja
untuk membentuk pribadi manusia? Aku bisa melakukannya sendiri.”
Jiwa “Bagaimana cara kamu melakukan sendiri? Kamu
tidak akan bisa melakukannya sendiri. Kita harus selalu bersama dan wajib
bersama karena kita tidak dapat dipisahkan oleh apapun.”
(badan
terdiam)
Jiwa “Pada dasarnya, aku sangat
membutuhkanmu. Tanpamu aku tidak bisa hidup dan bergerak. Kenapa kamu bisa
berpikiran seperti itu, Badan?”
Badan “Tidak, aliran dualism berkata bahwa kita
itu berbeda dan terpisah.”
Jiwa
“Cobalah kau lakukan jika kau dapat
lakukan. Tetapi pada aliran monism kita itu sama dan tidak berbeda. Bagaimana kamu
bisa menjadi badan jika kamu tidak memiliki jiwa. Dan sebaliknya aku
membutuhkanmu, Badan.”
Badan “Bagaimana aku dapat memercayaimu? Bagaimana
jika suatu saat kau meninggalkanku?”
Jiwa “Kau harus percaya padaku, Badan. Memang
suatu saat aku pasti akan meninggalkanmu. Maaf, aku tidak bermaksud
meninggalkanmu dan mengganti dirimu dengan yang lain. Tapi, ini memang harus
kulakukan.”
Badan “Kau berkata kita tidak boleh terpisah. Tetapi,
kau malah memutarbalikkan semuanya sekarang! Bagaimana aku dapat memercayaimu!”
Jiwa “Badan, dengarkanlah aku. aku juga
menginginkan agar kita tidak terpisah. Tetapi, aku tidak bisa. Aku benar-benar
minta maaf. Aku berjanji akan selalu bersamamu, Badan. Walaupun aku tidak
berada dekat dengan dirimu, tetapo aku akan selalu bersamamu sebagai bulan yang
menerangi malammu yang gelap, menerangi siangmu sebagai matahari dan menjagamu
dari kejauhan sebagai bintang.”
Badan “Apakah kau pasti menepati janjimu?”
Jiwa “Aku bersumpah akan menepati janjiku,
Badan. Aku akan selalu dan selamanya memperhatikan dan menjagamu walaupun dari
kejauhan. Oleh karena itu, sebelum waktu perpisahan kita tiba, maukah kau
membuat kenang-kenangan indah bersamaku?”
Badan “Ya…Ya! Aku mau, Badan! Mari kita buat
kenang-kenangan indah bersama melalui manusia ini. Kita akan selalu bersama dan
tidak akan terpisahkan. Selamanya.
Sahabat memang memiliki badan yang
berbeda, tetapi jiwa yang bersatu diantara dua badan yang berbeda tidak mungkin
dapat dipisahkan. Jiwa tidak mungkin terlepas dari badan karena mereka
merupakan satu kesatuan.”


Tidak ada komentar:
Posting Komentar