Hallo!!!!
Kembali lagi bersama sayaaa, cherika!
Nah, kali ini saya akan membahas mengenai Sillogisme dan Fallacia! Apa tuh sillogisme? fallacia??
Oke, kalau fallacia ini berarti kesesatan pemikiran, sementara silogisme itu seperti pelajaran matematika waktu SMA yang membahas tentang premis-premis. Bagaimana? Ingat?
Jumat, 26 September 2014
Kamis, 25 September 2014
Critical Thinking
Kali ini, pembahasannya tak kalah seru dengan pembahasan-pembahasan sebelumnya! Topiknya adalah CRITICAL THINKING (Berpikir Kritis)
Menurut kalian... berpikir kritis itu apa sih? Bagaimana karakteristiknya? Dan apa saja modelnya? Nah! Pada kesempatan ini, kita akan membahasnya secara mendalam.
Bagaimana? Siapp?
Oke! Langsung masuk ke topik yaa! ;)
Berpikir kritis berarti merasionalisasikan kehidupan manusia dan secara hati-hati mengamati / memeriksa proses berpikir sebagai dasar untuk mengklarifikasi dan memperbaiki pemahaman kita tentang sesuatu.
Kemudian, berpikir kritis juga memiliki karakteristik tersendiri, antara lain :
1. Rasional, Reasonable dan Reflektif
Selain karakteristik berpikir kritis, ada juga 5 model berpikir kritis, yaitu :
T : Total recall
H : Habits
I : Inquiry
N : New ideas and creativity
K : Knowing how you think
1. Total Recall
- Seseorang mampu mengingat fakta/suatu kejadian serta mengingat dimana dan bagaimana menemukannya ketika dibutuhkan.
- Total recall seseorang tergantung pada memori/ingatannya.
Jika anda kesulitan dalam mengingat sesuatu, ada berbagai cara untuk membantu mengingat sesuatu, seperti meletakkan suatu fakta pada suatu pola tertentu.
2. Habits (kebiasaan)
- Sesuatu yang dilakukan tanpa berpikir
- Habits membuat seseorang melakukan sesuatu tanpa harus mencari metode baru.
contoh : pertama kali anda memasang Kateter > bukan habit, kemudian setelah berkali-kali dilakukan, hal tersebut menjadi habits.
3. Inquiry (pencarian informasi)
- Memeriksa isu-isu secara mendalam dalam menanyakan hal-hal yang terlihat nyata termasuk menggali dan menanyakan segala sesuatu khususnya asumsi seseorang terhadap situasi tertentu.
4. New ideas and creativity
- Model ini membuat seseorang berpikir melebihi buku sumber
- Kreatif >< Habits
- Mencoba menjadi seseorang yang berbeda diantara sekumpulan orang yang ada.
5. Knowing how you think
- Berpikir tentang bagaimana seseorang berpikir.
- Metacognition : berada diantara proses mengetahui, kemudian tahu bagaimana anda berpikir.
Okeeeee... Selesai deh penjelasan mengenai materi pada hari ke-4!
Eitssss tapi sebelumnyaaa, saya akan memberikan sebuah video pendek yang berhubungan dengan critical thinking!
Sekian dan Terimakasih :)
Menurut kalian... berpikir kritis itu apa sih? Bagaimana karakteristiknya? Dan apa saja modelnya? Nah! Pada kesempatan ini, kita akan membahasnya secara mendalam.
Bagaimana? Siapp?
Oke! Langsung masuk ke topik yaa! ;)
Berpikir kritis berarti merasionalisasikan kehidupan manusia dan secara hati-hati mengamati / memeriksa proses berpikir sebagai dasar untuk mengklarifikasi dan memperbaiki pemahaman kita tentang sesuatu.
Kemudian, berpikir kritis juga memiliki karakteristik tersendiri, antara lain :
1. Rasional, Reasonable dan Reflektif
Yang berarti berdasarkan alasan-alasan dan bukti, bukan atas keinginan pribadi.
Dalam karakteristik ini, butuh waktu bagi seseorang untuk koleksi data, timbang fakta, dan pikirkan permasalahan.
2. Melibatkan skepticism yang sehat dan konstruktif
Tidak menerima atau menolak ide-ide, kecuali karena mengerti hal tersebut.
3. Otonomi
Tidak mudah dimanipulasi. Seseorang yang berpikir kritis berpikir dengan pikiran sendiri bukan diarahkan oleh anggota grupnya.
pemikiran dan konsep.
5. Adil
Tidak berpihak kepada siapapun.
6. Dapat dipercaya dan dilakukan
Seseorang yang berpikir kritis, memutuskan tindakan yang akan dilakukan; Membuat observasi yang dapat dipercaya; Menegakkan kesimpulan secara tepat; Mengatasi masalah dan mengevaluasi kebijakan, tuntutan dan tindakan.
Selain karakteristik berpikir kritis, ada juga 5 model berpikir kritis, yaitu :
T : Total recall
H : Habits
I : Inquiry
N : New ideas and creativity
K : Knowing how you think
1. Total Recall
- Seseorang mampu mengingat fakta/suatu kejadian serta mengingat dimana dan bagaimana menemukannya ketika dibutuhkan.
- Total recall seseorang tergantung pada memori/ingatannya.
Jika anda kesulitan dalam mengingat sesuatu, ada berbagai cara untuk membantu mengingat sesuatu, seperti meletakkan suatu fakta pada suatu pola tertentu.
2. Habits (kebiasaan)
- Sesuatu yang dilakukan tanpa berpikir
- Habits membuat seseorang melakukan sesuatu tanpa harus mencari metode baru.
contoh : pertama kali anda memasang Kateter > bukan habit, kemudian setelah berkali-kali dilakukan, hal tersebut menjadi habits.
3. Inquiry (pencarian informasi)
- Memeriksa isu-isu secara mendalam dalam menanyakan hal-hal yang terlihat nyata termasuk menggali dan menanyakan segala sesuatu khususnya asumsi seseorang terhadap situasi tertentu.
4. New ideas and creativity
- Model ini membuat seseorang berpikir melebihi buku sumber
- Kreatif >< Habits
- Mencoba menjadi seseorang yang berbeda diantara sekumpulan orang yang ada.
5. Knowing how you think
- Berpikir tentang bagaimana seseorang berpikir.
- Metacognition : berada diantara proses mengetahui, kemudian tahu bagaimana anda berpikir.
Okeeeee... Selesai deh penjelasan mengenai materi pada hari ke-4!
Eitssss tapi sebelumnyaaa, saya akan memberikan sebuah video pendek yang berhubungan dengan critical thinking!
Sekian dan Terimakasih :)
Logika
HAIIIIII!!!!!
Kembali lagi nih dengan saya, Cherika!
Kali ini saya akan membahas materi mengenai Logika.
Menurut kalian para pembaca, logika itu apa sih? Pasti tahu donggg? Dalam pelajaran matematika pasti kalian sudah sering mendengar kata tersebut :p
Nah! Sekarang, saya akan menjelaskan apa itu logika secara mendalam.
Logika dalam bahasa Yunani berarti logikos yaitu sesuatu yang diungkapkan / diutarakan lewat bahasa. (Zeno, Citium / 334 - 262 Seb.M)
Secara umum, logika adalah cabang filsafat yang mempelajari, menyusun dan membahas asas atau aturan formal serta kriteria yang sahih bagi penalaran dan penyimpulan untuk mencapai kebenaran yang dapat dipertanggungjawabkan secara rasional.
Nah, kalau secara singkatnya itu, logika merupakan ilmu pengetahuan dan kecakapan untuk berpikir lurus (tepat).
Kemudian, logika juga mempunyai obyek, obyek logika ini dibagi menjadi 2 yaitu obyek material yang merupaka manusia itu sendiri dan obyek formal yang merupakan kegiatan akal budi yang tampak melalui ungkapan pikiran melalui bahasa.
Nah, dari tadi kita ngebahas logika, manfaat logika itu apa sih??
Manfaat logika antara lain :
a. Membantu setiap orang untuk mampu berpikir kritis, rasional dan metodis
b. Meningkatkan kemampuan bernalar secara abstrak
c. Mampu berdiri lebih tajam dan mandiri
d. Menambah kecerdasar berpikir, sehingga bisa menghindari kesesatan dan kekeliruan dalam menarik kesimpulan.
Sejarah Logika
- Istilah logika pertama kali digunakan oleh Zeno dengan aliran stoisismenya, tapi filsuf pertama yang menggunakan logika sebagai ilmu adalah Aristoteles. Namun, istilah yang digunakan adalah analitika.
- Prinsip logika tradisional yang dikembangkan Aristoteles tetap menjadi prinsip-prinsip logika modern. Logika tradisional membahas definisi, konsep dan term menurut struktur, susunan dan nuansa, seluk beluk penalaran untuk mendapat kebenaran yang sesuai dengan kenyataan.
Sehubungan dengan itu, macam-macam logika terbagi menjadi :
1. Logika kodrati
merupakan suatu suasana saat akal budi bekerja menurut hukum logika secara spontan.
Misalnya saat kuliah seorang mahasiswa mendapat SMS dari ibunya agar menjemput adik dari sekolah pukul 1 siang. Mahasiswa tidak perlu bertanya mengapa ia harus menjemput karena dia yakin itu perintah ibunya.
2. Logika ilmiah
merupakan suasana yang berusaha mempertajam akal budi manusia agar dapat bekerja lebih teliti atau tepat, sehingga kesesatan dapat dihindari.
3. Logika formal (minor)
merupakan logika yang berbicara tentang kebenaran.
Sebuah argumen dikatakan mempunyai kebenaran bentuk, bila konklusinya kita tarik secara logis dari premis atau titik pangkalnya dengan mengabaikan isi yang terkandung dalam argumentasi tersebut.
4. Logika material/isi (mayor)
merupakan logika yang membahas tentang kebenaran isi.
Sebuah argumen dikatakan mempunyai kebenaran isi apabila pernyataan-pernyataan yang membentuk argumen tersebut sesuai dengan kenyataan.
Nah! Tidak sampai disini saja.
Logika juga dibagi menjadi 2 yaitu logika induktif dan deduktif.
LOGIKA INDUKTIF
apa itu logika induktif?
Logika induktif merupakan cara kerja ilmu pengetahuan yang bertolak dari sejumlah proposisi tunggal/partikular tertentu untuk menarik kesimpulan umum tertentu.
Kesimpulan itu merupakan generalisasi fakta yang memperlihatkan kesamaan, namun kesimpulan tersebut harus dianggap sebagai bersifat sementara. Mengapa? Karena, pada dasarnya ciri induktif selalu tidak lengkap.
Argumentasi dalam penalaran induksi tidak dinilai sebagai sahih/valid maupun tidak sahih/invalid, tapi berdasarkan probabilitas.
CIRI - CIRI penalaran induktif adalah :
a. premis penalaran induktif merupakan proposisi empiris yang ditangkap indera
b. kesimpulan dalam penalaran induksi lebih luas daripada apa yang dinyatakan dalam premis
c. Meskipun kesimpulan tidak mengikat, tapi manusia menerimanya
Manfaat belajar penalaran induktif adalah memberikan pembenaran atas kecendrungan manusia yang bersandar pada kebiasaan.
Sehubungan dengan logika induktif, adalagi nih namanya generalisasi induktif dan analogi induktif.
Apa artinya?
Generalisasi induktif merupakan proses penalaran berdasarkan pengamatan atas gejala dengan sifat tertentu untuk menarik kesimpulan tentang semua.
Prinsip generalisasi adalah apa yang terjadi beberapa kali dalam kondisi tertentu dapat diharapkan akan selalu terjadi bila kondisi yang sama terpenuhi.
Nah, dalam membuat generalisasi, ada syaratnya !
Yang pertama, tidak terbatas secara numerik dan tidak boleh terikat pada jumlah tertentu. Kedua, tidak terbatas secara spasio temporal, harus berlaku dimana saja. Ketiga, dapat dijadikan sebagai dasar pengandaian.
Analogi induktif berarti membicarakan tentang dua hal yang berbeda kemudian dibandingkan. Dua hal yang perlu diperhatikan dalam hal ini adalah persamaan dan perbedaan. Kesimpulan analogi induktif tidak bersifat universal tetapi khusus.
contoh :
Mangga 1 : kuning, besar, matang, ternyata manis
Mangga 2 : kuning, besar, matang, ternyata manis
Mangga 3 : kuning, besar, matang, ternyata manis
Mangga 4 : kuning, besar dan matang dan membentuk kesimpulan tentu juga manis.
Hubungan sebab-akibat
Prinsip umumnya ialah suatu peristiwa disebabkan oleh sesuatu. Terkandung maksna bahwa yang satu (sebab) mendahului yang lain (akibat). Tapi, tidak semua yang mendahului sesuatu menjadi sebab bagi yang lain.
Hubungan sebab akibat adalah hubungan yang intrinsik, artinya hubungan sedemikian rupa sehingga kalau yang satu ada/tidak ada, maka yang lain juga pasti ada/tidak ada.
3 pola hubungan sebab akibat yaitu dari sebab ke akibat, dari akibat ke sebab dan dari akibat ke akibat.
Perbedaan antara generalisasi induktif dengan analogi induktif ialah pada konklusinya. Generalisasi = universal
Analogi = khusus
LOGIKA DEDUKTIF
Nah, logika deduktif ini merupakan kebalikan dari induktif. Bila induktif menarik suatu kesimpulan dari khusus ke umum, maka deduktif menarik suatu kesimpulan dari umum ke khusus.
Ciri-cirinya ialah :
- Dimulai dari hal-hal umum menuju pada hal-hal khusus
- Kalimat utama terletak diawal paragraf dan selanjutnya dibarengi oleh beberapa kalimat penjelas sebagai pendukung kalimat utama.
YEYYYY!
Selesai deh pembahasan mengenai logika!
Semoga kalian para pembaca dapat mengerti ya :D
Terimakasih ♥
Sumber :
- Power Point filsafat dari Universitas Tarumanagara
- http://ikarizkisafitri.blogspot.com/2013/03/penalaran-penalaran-deduktif-dan_2698.html
Kembali lagi nih dengan saya, Cherika!
Kali ini saya akan membahas materi mengenai Logika.
Menurut kalian para pembaca, logika itu apa sih? Pasti tahu donggg? Dalam pelajaran matematika pasti kalian sudah sering mendengar kata tersebut :p
Nah! Sekarang, saya akan menjelaskan apa itu logika secara mendalam.
Logika dalam bahasa Yunani berarti logikos yaitu sesuatu yang diungkapkan / diutarakan lewat bahasa. (Zeno, Citium / 334 - 262 Seb.M)
Secara umum, logika adalah cabang filsafat yang mempelajari, menyusun dan membahas asas atau aturan formal serta kriteria yang sahih bagi penalaran dan penyimpulan untuk mencapai kebenaran yang dapat dipertanggungjawabkan secara rasional.
Nah, kalau secara singkatnya itu, logika merupakan ilmu pengetahuan dan kecakapan untuk berpikir lurus (tepat).
Kemudian, logika juga mempunyai obyek, obyek logika ini dibagi menjadi 2 yaitu obyek material yang merupaka manusia itu sendiri dan obyek formal yang merupakan kegiatan akal budi yang tampak melalui ungkapan pikiran melalui bahasa.
Nah, dari tadi kita ngebahas logika, manfaat logika itu apa sih??
Manfaat logika antara lain :
a. Membantu setiap orang untuk mampu berpikir kritis, rasional dan metodis
b. Meningkatkan kemampuan bernalar secara abstrak
c. Mampu berdiri lebih tajam dan mandiri
d. Menambah kecerdasar berpikir, sehingga bisa menghindari kesesatan dan kekeliruan dalam menarik kesimpulan.
Sejarah Logika
- Istilah logika pertama kali digunakan oleh Zeno dengan aliran stoisismenya, tapi filsuf pertama yang menggunakan logika sebagai ilmu adalah Aristoteles. Namun, istilah yang digunakan adalah analitika.
- Prinsip logika tradisional yang dikembangkan Aristoteles tetap menjadi prinsip-prinsip logika modern. Logika tradisional membahas definisi, konsep dan term menurut struktur, susunan dan nuansa, seluk beluk penalaran untuk mendapat kebenaran yang sesuai dengan kenyataan.
Sehubungan dengan itu, macam-macam logika terbagi menjadi :
1. Logika kodrati
merupakan suatu suasana saat akal budi bekerja menurut hukum logika secara spontan.
Misalnya saat kuliah seorang mahasiswa mendapat SMS dari ibunya agar menjemput adik dari sekolah pukul 1 siang. Mahasiswa tidak perlu bertanya mengapa ia harus menjemput karena dia yakin itu perintah ibunya.
2. Logika ilmiah
merupakan suasana yang berusaha mempertajam akal budi manusia agar dapat bekerja lebih teliti atau tepat, sehingga kesesatan dapat dihindari.
3. Logika formal (minor)
merupakan logika yang berbicara tentang kebenaran.
Sebuah argumen dikatakan mempunyai kebenaran bentuk, bila konklusinya kita tarik secara logis dari premis atau titik pangkalnya dengan mengabaikan isi yang terkandung dalam argumentasi tersebut.
4. Logika material/isi (mayor)
merupakan logika yang membahas tentang kebenaran isi.
Sebuah argumen dikatakan mempunyai kebenaran isi apabila pernyataan-pernyataan yang membentuk argumen tersebut sesuai dengan kenyataan.
Nah! Tidak sampai disini saja.
Logika juga dibagi menjadi 2 yaitu logika induktif dan deduktif.
LOGIKA INDUKTIF
apa itu logika induktif?
Logika induktif merupakan cara kerja ilmu pengetahuan yang bertolak dari sejumlah proposisi tunggal/partikular tertentu untuk menarik kesimpulan umum tertentu.
Kesimpulan itu merupakan generalisasi fakta yang memperlihatkan kesamaan, namun kesimpulan tersebut harus dianggap sebagai bersifat sementara. Mengapa? Karena, pada dasarnya ciri induktif selalu tidak lengkap.
Argumentasi dalam penalaran induksi tidak dinilai sebagai sahih/valid maupun tidak sahih/invalid, tapi berdasarkan probabilitas.
CIRI - CIRI penalaran induktif adalah :
a. premis penalaran induktif merupakan proposisi empiris yang ditangkap indera
b. kesimpulan dalam penalaran induksi lebih luas daripada apa yang dinyatakan dalam premis
c. Meskipun kesimpulan tidak mengikat, tapi manusia menerimanya
Manfaat belajar penalaran induktif adalah memberikan pembenaran atas kecendrungan manusia yang bersandar pada kebiasaan.
Sehubungan dengan logika induktif, adalagi nih namanya generalisasi induktif dan analogi induktif.
Apa artinya?
Generalisasi induktif merupakan proses penalaran berdasarkan pengamatan atas gejala dengan sifat tertentu untuk menarik kesimpulan tentang semua.
Prinsip generalisasi adalah apa yang terjadi beberapa kali dalam kondisi tertentu dapat diharapkan akan selalu terjadi bila kondisi yang sama terpenuhi.
Nah, dalam membuat generalisasi, ada syaratnya !
Yang pertama, tidak terbatas secara numerik dan tidak boleh terikat pada jumlah tertentu. Kedua, tidak terbatas secara spasio temporal, harus berlaku dimana saja. Ketiga, dapat dijadikan sebagai dasar pengandaian.
Analogi induktif berarti membicarakan tentang dua hal yang berbeda kemudian dibandingkan. Dua hal yang perlu diperhatikan dalam hal ini adalah persamaan dan perbedaan. Kesimpulan analogi induktif tidak bersifat universal tetapi khusus.
contoh :
Mangga 1 : kuning, besar, matang, ternyata manis
Mangga 2 : kuning, besar, matang, ternyata manis
Mangga 3 : kuning, besar, matang, ternyata manis
Mangga 4 : kuning, besar dan matang dan membentuk kesimpulan tentu juga manis.
Hubungan sebab-akibat
Prinsip umumnya ialah suatu peristiwa disebabkan oleh sesuatu. Terkandung maksna bahwa yang satu (sebab) mendahului yang lain (akibat). Tapi, tidak semua yang mendahului sesuatu menjadi sebab bagi yang lain.
Hubungan sebab akibat adalah hubungan yang intrinsik, artinya hubungan sedemikian rupa sehingga kalau yang satu ada/tidak ada, maka yang lain juga pasti ada/tidak ada.
3 pola hubungan sebab akibat yaitu dari sebab ke akibat, dari akibat ke sebab dan dari akibat ke akibat.
Perbedaan antara generalisasi induktif dengan analogi induktif ialah pada konklusinya. Generalisasi = universal
Analogi = khusus
LOGIKA DEDUKTIF
Nah, logika deduktif ini merupakan kebalikan dari induktif. Bila induktif menarik suatu kesimpulan dari khusus ke umum, maka deduktif menarik suatu kesimpulan dari umum ke khusus.
Ciri-cirinya ialah :
- Dimulai dari hal-hal umum menuju pada hal-hal khusus
- Kalimat utama terletak diawal paragraf dan selanjutnya dibarengi oleh beberapa kalimat penjelas sebagai pendukung kalimat utama.
YEYYYY!
Selesai deh pembahasan mengenai logika!
Semoga kalian para pembaca dapat mengerti ya :D
Terimakasih ♥
Sumber :
- Power Point filsafat dari Universitas Tarumanagara
- http://ikarizkisafitri.blogspot.com/2013/03/penalaran-penalaran-deduktif-dan_2698.html
Konfirmasi, Konstruksi & Inferensi
Hai!!!!!
Kali ini saya ingin membahas tentang Konfirmasi, Konstruksi Teori dan Inferensi!
Apa yah arti dari masing-masing kata tersebut?
Langsung saja yaa ;)
1. Konfirmasi
Kalian pasti tahu dong konfirmasi itu apa? Tapi, kali ini saya akan membahas materi mengenai konfirmasi secara mendalam!
Secara etimologi, konfirmasi berasal dari bahasa Inggris yang berarti penegasan / memperkuat. Dengan kata lain, konfirmasi merupakan apa yang didapat dari kenyataan atau fakta.
Aspek konfirmasi adalah Kuantitatif dan Kualitatif.
Kuantitatif misalnya membuat penelitian dengan mengumpulkan sebanyak mungkin sampel, yang akhirnya membuat suatu kesimpulan yang bersifat umum (generalisasi).
Kualitatif misalnya dalam penelitian yang menjalankan model wawancara mendalam (depth interview).
Konfirmasi ini berupaya mencari hubungan yang normatif antara hipotesis yang sudah diambil dengan fakta-fakta.
Selain itu, konfirmasi dibagi menjadi 3 jenis, yaitu :
a. decision theory : kepastian berdasarkan keputusan "apakah hubungan antara hipotesis dengan fakta punya manfaat aktual?"
b. estimation theory : menetapkan kepastian dengan memberi peluang benar-salah melalui konsep probabilitas, misalnya statistik.
c. reliability theory : menetapkan kepastian dengan mencermati stabilitas fakta yang berubah-ubah terhadap hipotesis.
2. Inferensi
Inferensi itu berarti penyimpulan.
Dengan kata lain, inferensi didefinisikan sebagai suatu proses penarikan konklusi dari satu atau lebih proposisi (keputusan).
Nah, proses penarikan konklusi ini dapat dilakukan dengan cara deduktif dan induktif.
Deduktif terbagi lagi menjadi 2 jenis yaitu Inferensi Langsung dan Inferensi Tidak Langsung.
- Inferensi Langsung
yaitu penarikan kesimpulan hanya dari sebuah premis (pernyataan).
- Inferensi Tidak Langsung
yaitu penarikan kesimpulan dengan menggunakan dua premis.
apa itu premis? Nah, premis itu adalah data, bukti atau dasar pemikiran yang menjamin terbentuknya kesimpulan.
HUKUM INFERENSI :
a. Kalau premis-premis benar, maka kesimpulan benar.
b. Kalau premis-premis salah, maka kesimpulan dapat salah, dapat kebetulan benar.
c. Bila kesimpulan salah, maka premis-premis juga salah.
d. Bila kesimpulan benar, maka premis-premisnya dapat benar, tetapi dapat juga salah.
3. Konstruksi Teori
Teori adalah kerangka pikiran yang menjelaskan fenomena alami/sosial tertentu.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, teori adalah pendapatyang dikemukakan sebagai keterangan tentang suatu peristiwa.
Teori mempunya 2 kutub arti, yaitu :
- Teori sebagai hukum eksperimental ; misalnya hukum Mendel yang bisa diuji langsung lewat observasi.
- Teori sebagai hukum yang berkualitas normal ; misalnya teori realitivasnya Einstein.
Sehubungan dengan itu, teori berkembang melalui pengelompokkan perkembangan ilmu pengetahuan dalam 3 periode, yakni :
a. Animisme : fase percaya pada mitos
b. Ilmu empiris : pengalaman, klarifikasi, penemuan hubungan-hubungan dan perkiraan kebenaran
c. Ilmu teoretis : gejala yang ditemukan dalam ilmu empiris diterangkan dengan kerangka pemikiran.
Konstruksi teori dibangun dengan abstraksi generalisasi dan deduksi probabilistik & deduksi apriori (spekulatif).
Selain periode yang disebutkan diatas, konstruksi juga mempunyai 3 model, yaitu :
a. Model korespondensi
Dimana suatu kebenaran dibuktikan dengan menemukan relevansinya dengan yang lain.
b. Model koherensi
Sesuatu dipandang benar bila sesuai dengan moral tertentu. Model ini mementingkan kesesuaian obyektif dan kebenaran moral. Biasanya digunakan dalam pendekatan fenomenologis.
c. Model paradigmatis
Konsep kebenaran yang ditata menurut pola hubungan yang beragam dan menyederhanakan yang kompleks.
Aliran yang terdapat dalam konstruksi teori yaitu aliran reduksionisme, instrumentalisme dan realisme.
- Reduksionisme
Menyatakan bahwa teori itu merupakan suatu pernyataan yang abstrak, tidak dapat diamati secara empiris dan tidak dapat diuji secara langsung.
- Instrumentalisme
Teori adalah instrumen bagi pernyataan observasi agar terarah dan terkonstruksi.
- Realisme
Teori dianggap benar bila real, ada secara substantif bukan fiktif.
Nah!! Sekian penjelasan saya mengenai konfirmasi, inferensi dan konstruksi teori!
Terimakasih ;)
Dengan kata lain, inferensi didefinisikan sebagai suatu proses penarikan konklusi dari satu atau lebih proposisi (keputusan).
Nah, proses penarikan konklusi ini dapat dilakukan dengan cara deduktif dan induktif.
Deduktif terbagi lagi menjadi 2 jenis yaitu Inferensi Langsung dan Inferensi Tidak Langsung.
- Inferensi Langsung
yaitu penarikan kesimpulan hanya dari sebuah premis (pernyataan).
- Inferensi Tidak Langsung
yaitu penarikan kesimpulan dengan menggunakan dua premis.
apa itu premis? Nah, premis itu adalah data, bukti atau dasar pemikiran yang menjamin terbentuknya kesimpulan.
HUKUM INFERENSI :
a. Kalau premis-premis benar, maka kesimpulan benar.
b. Kalau premis-premis salah, maka kesimpulan dapat salah, dapat kebetulan benar.
c. Bila kesimpulan salah, maka premis-premis juga salah.
d. Bila kesimpulan benar, maka premis-premisnya dapat benar, tetapi dapat juga salah.
3. Konstruksi Teori
Teori adalah kerangka pikiran yang menjelaskan fenomena alami/sosial tertentu.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, teori adalah pendapatyang dikemukakan sebagai keterangan tentang suatu peristiwa.
Teori mempunya 2 kutub arti, yaitu :
- Teori sebagai hukum eksperimental ; misalnya hukum Mendel yang bisa diuji langsung lewat observasi.
- Teori sebagai hukum yang berkualitas normal ; misalnya teori realitivasnya Einstein.
Sehubungan dengan itu, teori berkembang melalui pengelompokkan perkembangan ilmu pengetahuan dalam 3 periode, yakni :
a. Animisme : fase percaya pada mitos
b. Ilmu empiris : pengalaman, klarifikasi, penemuan hubungan-hubungan dan perkiraan kebenaran
c. Ilmu teoretis : gejala yang ditemukan dalam ilmu empiris diterangkan dengan kerangka pemikiran.
Konstruksi teori dibangun dengan abstraksi generalisasi dan deduksi probabilistik & deduksi apriori (spekulatif).
Selain periode yang disebutkan diatas, konstruksi juga mempunyai 3 model, yaitu :
a. Model korespondensi
Dimana suatu kebenaran dibuktikan dengan menemukan relevansinya dengan yang lain.
b. Model koherensi
Sesuatu dipandang benar bila sesuai dengan moral tertentu. Model ini mementingkan kesesuaian obyektif dan kebenaran moral. Biasanya digunakan dalam pendekatan fenomenologis.
c. Model paradigmatis
Konsep kebenaran yang ditata menurut pola hubungan yang beragam dan menyederhanakan yang kompleks.
Aliran yang terdapat dalam konstruksi teori yaitu aliran reduksionisme, instrumentalisme dan realisme.
- Reduksionisme
Menyatakan bahwa teori itu merupakan suatu pernyataan yang abstrak, tidak dapat diamati secara empiris dan tidak dapat diuji secara langsung.
- Instrumentalisme
Teori adalah instrumen bagi pernyataan observasi agar terarah dan terkonstruksi.
- Realisme
Teori dianggap benar bila real, ada secara substantif bukan fiktif.
Nah!! Sekian penjelasan saya mengenai konfirmasi, inferensi dan konstruksi teori!
Terimakasih ;)
Senin, 22 September 2014
CLOUD!
HAIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIII!!
Kembali lagi bersama saya... Eits! tapi kali ini tidak membahas materi dulu yaaa :p
Tapi, memperkenalkan kelompok CLOUD!
Yeah, it's CLOUD :D
CLOUD adalah nama dari kelompok AB5, Fakultas Psikologi, Universitas Tarumanagara.
Tapi... CLOUD yang kami maksud disini bukan cloud "awan", melainkan terdapat kepanjangan dalam kata tersebut, yaitu Capability and Loyality to OUr Dream. Kelompok kami yakin bahwa kami mampu untuk mengejar mimpi kami masing-masing. Kami akan berusaha mencapai mimpi kami masing-masing, tapi berusahanya tidak secara individu tapi secara bersama-sama! :D
^ ^ ^ ^ ^ ^ ^
Ini dia penampakan anggota kelompok yang bernamakan CLOUD! :p
Sekian perkenalan dari saya mengenai kelompok AB5! :D
Terimakasih ♥
Subyektivisme & Obyektivisme
Halloooooo, bertemu lagi dengan saya pada pembahasan materi hari ke-4! :D
Kali ini materinya agak banyak nihhh, ada subyektivisme, obyektivisme, konfirmasi & inferensi, logika dan critical thinking :O. Tapi, semoga kalian para pembaca enjoy yaaa, semoga juga tidak mengantukkk dan buat yang mengantukk... silahkan minum kopi terlebih dahulu :p.
Oke! Kita mulai saja yaaaa, pertama saya akan membahas SUBYEKTIVISME dan OBYEKTIVISME!
Subyektivisme itu apa sih? Obyektivisme itu apa sih?
Pada pembahasan sebelumnya, subyek dan obyek sudah sempat dibahas kan? Jadi, sudah tidak asing yaa :p
SUBYEKTIVISME
: menekankan pada diri sendiri atau si pengamat
Ciri-ciri pendekatan subyektivisme, yaitu :
- Menggagas pengetahuan sebagai suatu keadaan mental yang khusus (semacam kepercayaan istimewa) ; misalnya sejarah atau kepercayaan-kepercayaan lain.
- Titik tolak pengetahuan dari data inderawi diri sendiri adalah pengalaman subyektif.
- Prinsip subyektif tentang alasan cukup, karena pengalaman bersifat personal, benar secara pasti dan meyakinkan karena berlaku sebagai pengetahuan langsung dari diri subyek.
Seorang tokoh dalam pendekatan subyektivisme, Rene Descartes mengatakan bahwa Cogito ergo sum, "saya berpikir maka saya ada".
Ketika Descartes berbicara mengenai berpikir, ia tidak bermaksud secara eksklusif pada penalaran saja, tapi melihat, mendengar, merasa, senang atau sakit, kehendak masuk dalam kegiatan berpikir.
Eits, selain Rene Descartes, ada lagi tokoh lain yang mengemukakan pendapatnya, seperti realisme Epistemologis berpendapat bahwa kesadaran menghubungkan saya dengan "apa yang lain" dari diri saya. Sementara, idealisme epistemologis berpendapat bahwa setiap tindakan mengetahui berakhir di dalam suatu ide, yang merupakan suatu peristiwa subyektif murni. Sesudah Descartes, banyak filsuf yang mengandaikan bahwa satu-satunya hal yang dapat kita ketahui dengan pasti adalah diri kita sendiri dan kegiatan sadar kita.
Pengetahuan tentang diri sendiri merupakan pengetahuan langsung, sementara pengetahuan tentang sesuatu "yang bukan aku" merupakan pengetahuan tidak langsung.
Berbicara tentang subyektivisme, ada lagi nih yang namanya Skeptisisme, dimana kita tidak pernah tahu tentang apa pun. Skeptisisme ini juga meragu-ragukan kemungkinan bahwa manusia bisa mengetahui sesuatu. Mengapa? Karena tidak ada bukti yang cukup bahwa manusia benar-benar tahu tentang sesuatu. Jadi mereka menganggap bahwa mustahil kalau manusia mencapai pengetahuan tentang sesuatu. Nah! Descartes menolak skeptisme yang justru membawanya ke arah subyektivisme.
Kemudian, Obyektivisme! Apa pengertiannya?
Langsung saja yaa..
Obyektivisme adalah suatu pandangan yang menekankan bahwa butir-butir pengetahuan manusia, dari soal yang sederhana sampai teori yang kompleks. Obyektivisme ini mempunya sifat dan ciri yang melampaui (di luar) keyakinan dan kesadaran individu (pengamat).
Dalam obyektivisme, pengetahuan diperlakukan sebagai sesuatu yang berada diluar ketimbang di dalam pikiran manusia.
Pendukung pandangan ini adalah Popper, Latatos dan Marx.
Obyektivisme beranggapan bahwa tolak ukur suatu gagasan berada pada objeknya. Jadi, obyektivisme merupakan pandangan yang menganggap bahwa segala sesuatu yang dipahami adalah tidak tergantung pada orang yang memahami.
3 pandangan dasar obyektivisme :
1. Kebenaran itu independen terlepas dari pandangan subjektif,
2. Kebenaran itu datang dari bukti faktual,
3. Kebenaran hanya bisa didasari dari pengalaman inderawi.
Nah, obyek-obyek itu bersifat umum, dalam arti bahwa obyek yang sama dapat dipersepsikan oleh pengamat yang jumlahnya tidak terbatas. Obyek-obyek itu juga bersifat permanen, baik untuk dipersepsikan atau pun tidak. Jadi, persepsi itu tidak mengubah sedikit pun obyek.
Oleh karena itu, untuk mempercayai kebenaran kesaksian inderawi, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi, yaitu :
a. Obyek harus sesuai dengan jenis indera kita. Nah, seperti warna infra merah, warna tersebut tidak cocok bagi indera kita.
b. Organ indera harus normal dan sehat.
Misalnya buta, tuli atau buta warna, tidak dapat melakukan penginderaan secara obyektif.
c. Karena obyek ditangkap melalui medium, maka medium itu harus ada.
Misalnya, warna akan di tangkap indera dengan tepat apabila di bawah sinar matahari dari pada di bawah sinar merah yang digunakan untuk mencetak foto.
Disamping itu, obyek juga dibedakan menjadi 2, yaitu :
+ Obyek khusus : data yang ditangkap oleh satu indera ; contoh: warna, suara, bau.
+ Obyek umum : data yang dapat ditangkap oleh lebih dari satu indera ; contoh: keluasan dan gerakan yang dapat dilihat dan diraba atau oleh indera lainnya.
Sekian materi tentang subyektivisme dan obyetivisme!
Sampai ketemu dimateri selanjutnyaaa :D
Kemudian, Obyektivisme! Apa pengertiannya?
Langsung saja yaa..
Obyektivisme adalah suatu pandangan yang menekankan bahwa butir-butir pengetahuan manusia, dari soal yang sederhana sampai teori yang kompleks. Obyektivisme ini mempunya sifat dan ciri yang melampaui (di luar) keyakinan dan kesadaran individu (pengamat).
Dalam obyektivisme, pengetahuan diperlakukan sebagai sesuatu yang berada diluar ketimbang di dalam pikiran manusia.
Pendukung pandangan ini adalah Popper, Latatos dan Marx.
Obyektivisme beranggapan bahwa tolak ukur suatu gagasan berada pada objeknya. Jadi, obyektivisme merupakan pandangan yang menganggap bahwa segala sesuatu yang dipahami adalah tidak tergantung pada orang yang memahami.
3 pandangan dasar obyektivisme :
1. Kebenaran itu independen terlepas dari pandangan subjektif,
2. Kebenaran itu datang dari bukti faktual,
3. Kebenaran hanya bisa didasari dari pengalaman inderawi.
Nah, obyek-obyek itu bersifat umum, dalam arti bahwa obyek yang sama dapat dipersepsikan oleh pengamat yang jumlahnya tidak terbatas. Obyek-obyek itu juga bersifat permanen, baik untuk dipersepsikan atau pun tidak. Jadi, persepsi itu tidak mengubah sedikit pun obyek.
Oleh karena itu, untuk mempercayai kebenaran kesaksian inderawi, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi, yaitu :
a. Obyek harus sesuai dengan jenis indera kita. Nah, seperti warna infra merah, warna tersebut tidak cocok bagi indera kita.
b. Organ indera harus normal dan sehat.
Misalnya buta, tuli atau buta warna, tidak dapat melakukan penginderaan secara obyektif.
c. Karena obyek ditangkap melalui medium, maka medium itu harus ada.
Misalnya, warna akan di tangkap indera dengan tepat apabila di bawah sinar matahari dari pada di bawah sinar merah yang digunakan untuk mencetak foto.
Disamping itu, obyek juga dibedakan menjadi 2, yaitu :
+ Obyek khusus : data yang ditangkap oleh satu indera ; contoh: warna, suara, bau.
+ Obyek umum : data yang dapat ditangkap oleh lebih dari satu indera ; contoh: keluasan dan gerakan yang dapat dilihat dan diraba atau oleh indera lainnya.
Sekian materi tentang subyektivisme dan obyetivisme!
Sampai ketemu dimateri selanjutnyaaa :D
Minggu, 21 September 2014
DEBAT!
Halloooo..
Pada postingan ini saya akan membahas tentang debat. Jadi, debat ini merupakan materi yang masuk pada pertemuan ke-3. Nah, disini saya tidak menjelaskan apa yang telah dijelaskan oleh Pak Romo atau orang lain, tapi disini saya akan memberitahukan pendapat saya. Langsung saja yaaaaa!
KASUS 1
PILKADA LANGSUNG ATAU TIDAK LANGSUNG?
Dengan pendekatan rasionalisme dan empiris, alasan saya kontra terhadap pilkada tidak langsung.. Bisa kita lihat dalam media sosial dan acara-acara TV, begitu banyak berita bahwa pejabat XXX melakukan korupsi, menerima suap dan lain sebagainya. Hal ini yang menjadi alasan mengapa saya tidak setuju apabila suara pemilu diambil melalui Dewan Perwakilan Rakyat. Terlalu banyak pejabat yang buta karena uang, mereka tak akan berpikir panjang dalam memilih karena telah menerima sogokan atau suap dari calon pemimpin. Mereka tak akan sempat memikirkan bagaimana nasib rakyat.
Kemudian, apabila pilkada dilakukan secara langsung, maka akan terjadi pendekatan rakyat terhadap calon pemimpinnya kelak.
Dan berdasarkan sifat kebenaran :
- Kritis : Indonesia merupakan negara demokrasi, dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Dimana rakyat yang berasal dari sabang sampai merauke dan dari pulau miangas sampai pulau rote memiliki hak untuk memilih sesuai dengan yang mereka inginkan.
KASUS II
Pro atau Kontra mengenai Pergaulan Bebas?
Nah, debat selanjutnya tak kalah seru dengan sebelumnya! Malah sepertinya lebih seru, soalnya sewaktu membahas tentang topik ini suasana kelas menjadi ricuh!!
Sekarang, mari kita cusss ke topik tentang pergaulan bebas!
Pergaulan bebas itu dapat diartikan dalam banyak hal. Namun, yang akan saya bahas kali ini yaitu seks bebas.
Jadi, pergaulan bebas ini seringkali terjadi dikalangan remaja. Saya pribadi merupakan seseorang yang kontra terhadap pergaulan bebas.
Mengapa?!
Dengan pendekatan rasional, seperti yang kita ketahui bahwa pergaulan bebas merupakan suatu hal yang dinilai negatif oleh banyak anggota masyarakat. Selain dapat menyebabkan kehamilan, pergaulan bebas juga dapat menyebabkan penyakit menular.
Menyangkut dengan pergaulan bebas, dapat kita tangkap bahwa pergaulan bebas seperti seks bebas merupakan suatu hubungan yang diluar nikah. Apa yang akan terjadi bila 2 pasangan berbeda jenis kelamin berhubungan intim diluar nikah? Hamil. Dilihat dari efek bagi psikologis wanita, ia akan menjadi stress, merasa tertekan dan menanggung malu di kalangan masyarakat. Secara fisik, apabila wanita tersebut hamil diluar nikah pada usia yang belum mencukupi usianya. Apa akibatnya?! Apa rahimnya sudah sanggup? Hal ini dapat menyebabkan kematian antara si ibu ataupun bayinya dan atau bahkan keduanya.
Memang banyak jalan keluar apabila seseorang hamil diluar nikah. Salah satunya adalah aborsi. Tapi, berdasarkan agama itu merupakan hal yang menyimpang. Aborsi juga tidak berarti aman bagi si ibu yang mengandung. Aborsi juga mempunyai kemungkinan kematian bagi si ibu.
Sekian pendapat saya pada perdebatan kali ini. Saya berharap ini dapat bermanfaat bagi kalian para pembaca.
Terimakasih.
Sumber: http://politik.news.viva.co.id/news/read/538076-10-alasan-dukung-pilkada-langsung
http://joglosemar.co/2014/09/pan-menolak-pilkada-lewat-dprd-itu-berlawanan-dengan-jokowi.html
Pada postingan ini saya akan membahas tentang debat. Jadi, debat ini merupakan materi yang masuk pada pertemuan ke-3. Nah, disini saya tidak menjelaskan apa yang telah dijelaskan oleh Pak Romo atau orang lain, tapi disini saya akan memberitahukan pendapat saya. Langsung saja yaaaaa!
KASUS 1
PILKADA LANGSUNG ATAU TIDAK LANGSUNG?
Beberapa hari belakangan ini, terjadi pembicaraan hangan di berbagai media sosial dan TV, mengenai wacana dan pasca pengesahan RUU tentang Pilkada langsung atau tidak langsung. Hal ini menyebabkan terjadinya pro dan kontra. Menurut saya secara pribadi, pilkada sebaiknya dilaksanakan secara langsung. Langsung melalui suara rakyat, bukan melalui DPR. Hal ini berarti saya kontra pada pilkada tidak langsung.
Mengapa???Dengan pendekatan rasionalisme dan empiris, alasan saya kontra terhadap pilkada tidak langsung.. Bisa kita lihat dalam media sosial dan acara-acara TV, begitu banyak berita bahwa pejabat XXX melakukan korupsi, menerima suap dan lain sebagainya. Hal ini yang menjadi alasan mengapa saya tidak setuju apabila suara pemilu diambil melalui Dewan Perwakilan Rakyat. Terlalu banyak pejabat yang buta karena uang, mereka tak akan berpikir panjang dalam memilih karena telah menerima sogokan atau suap dari calon pemimpin. Mereka tak akan sempat memikirkan bagaimana nasib rakyat.
Kemudian, apabila pilkada dilakukan secara langsung, maka akan terjadi pendekatan rakyat terhadap calon pemimpinnya kelak.
Dan berdasarkan sifat kebenaran :
- Kritis : Indonesia merupakan negara demokrasi, dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Dimana rakyat yang berasal dari sabang sampai merauke dan dari pulau miangas sampai pulau rote memiliki hak untuk memilih sesuai dengan yang mereka inginkan.
KASUS II
Pro atau Kontra mengenai Pergaulan Bebas?
Nah, debat selanjutnya tak kalah seru dengan sebelumnya! Malah sepertinya lebih seru, soalnya sewaktu membahas tentang topik ini suasana kelas menjadi ricuh!!
Sekarang, mari kita cusss ke topik tentang pergaulan bebas!
Pergaulan bebas itu dapat diartikan dalam banyak hal. Namun, yang akan saya bahas kali ini yaitu seks bebas.
Jadi, pergaulan bebas ini seringkali terjadi dikalangan remaja. Saya pribadi merupakan seseorang yang kontra terhadap pergaulan bebas.
Mengapa?!
Dengan pendekatan rasional, seperti yang kita ketahui bahwa pergaulan bebas merupakan suatu hal yang dinilai negatif oleh banyak anggota masyarakat. Selain dapat menyebabkan kehamilan, pergaulan bebas juga dapat menyebabkan penyakit menular.
Menyangkut dengan pergaulan bebas, dapat kita tangkap bahwa pergaulan bebas seperti seks bebas merupakan suatu hubungan yang diluar nikah. Apa yang akan terjadi bila 2 pasangan berbeda jenis kelamin berhubungan intim diluar nikah? Hamil. Dilihat dari efek bagi psikologis wanita, ia akan menjadi stress, merasa tertekan dan menanggung malu di kalangan masyarakat. Secara fisik, apabila wanita tersebut hamil diluar nikah pada usia yang belum mencukupi usianya. Apa akibatnya?! Apa rahimnya sudah sanggup? Hal ini dapat menyebabkan kematian antara si ibu ataupun bayinya dan atau bahkan keduanya.
Memang banyak jalan keluar apabila seseorang hamil diluar nikah. Salah satunya adalah aborsi. Tapi, berdasarkan agama itu merupakan hal yang menyimpang. Aborsi juga tidak berarti aman bagi si ibu yang mengandung. Aborsi juga mempunyai kemungkinan kematian bagi si ibu.
Sekian pendapat saya pada perdebatan kali ini. Saya berharap ini dapat bermanfaat bagi kalian para pembaca.
Terimakasih.
Sumber: http://politik.news.viva.co.id/news/read/538076-10-alasan-dukung-pilkada-langsung
http://joglosemar.co/2014/09/pan-menolak-pilkada-lewat-dprd-itu-berlawanan-dengan-jokowi.html
Sabtu, 20 September 2014
Epistemologi dan Kebenaran
Halloo, postingan hari ini akan membahas mengenai materi pada pertemuan ke-3 yaitu Epistemologi dan Kebenaran.
Nah, epistemologi ini merupakan salah satu topik yang paling sering diperdebatkan dan dibahas dalam bidang filsafat loh! Seperti apa itu pengetahuan, bagaimana karakteristiknya, macamnya serta hubungannya dengan kebenaran dan keyakinan.
Selain itu, epistemologi juga berhubungan dengan hakikat, pengandaian, dasar-dasarnya serta pertanggungjawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki oleh manusia.
Kira-kira pengetahuan manusia diperoleh dari mana ya?
Jadi, pengetahuan tersebut diperoleh manusia melalui akal dan panca indera dengan berbagai metode, yakni metode induktif, deduktif, positivisme, kontemplatis, dialektis.
Oke, sebelumnya saya akan menjelaskan tentang metode yang digunakan untuk memperoleh pengetahuan.
a. Empirisme
Metode yang mendasarkan cara memperoleh pengetahuan dengan melalui pengalaman. Nah, disini John Locke, seorang bapak empirisme Britania, mengatakan bahwa pada waktu manusia dilahirkan akalnya manusia merupakan jenis catatan yang kosong (Tabula Rasa) dan didalam catatan kosong tersebut dicatat pengelaman-pengalaman inderawi.
b. Rasionalisme
Metode yang berpendirian bahwa sumber pengetahuan itu terletak pada akal. Berbeda dengan empirisme, rasionalisme menganggap bahwa pengalaman itu merupakan sejenis perangsang bagi pikiran.
c. Fenomenalisme
Metode ini menyatakan bahwa kebenaran itu di lihat dari gejala - gejala yang ada saat ini. Tokoh fenomenalisme adalah Immanuel Kant.
Masuk ke topik Epistemologi, ya! :D
Epistemologi itu apa sih?
Nah, sekarang saya jelaskan yaa..
Epistemologi itu merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari proses bagaimana pengetahuan itu diperoleh oleh manusia. Tapi bukan hanya sekedar mempelajari saja, epistemologi ini mempelajari proses tersebut secara kritis, normatif dan evaluatif.
Maksudnya dari kritis, normatif dan evaluatif itu apa sihh?
Oke, maksud dari kritis itu adalah dimana seseorang mempertanyakan atau menguji cara kerja, pendekatan, kesimpulan yang ditarik dalam kegiatan kognitif manusia. Kemudian, normatif merupakan sifat menentukan tolak ukur/norma penalaran tentang kebenaran suatu pengetahuan. Sedangkan evaluatif adalah sifat menilai, apakah pengetahuan tersebut dapat dipertanggungjawabkan dan dijamin kebenarannya secara logis dan akurat.
Bagaimana? Mengerti kan? :D
Selanjutnya, terdapat dasar dan sumber suatu pengetahuan, yakni :
1. Pengalaman manusia
2. Ingatan (memory)
3. Penegasan tentang apa yang diobservasi (kesaksian)
4. Minat dan rasa ingin tahu
5. Pikiran dan penalaran
6. Logika berpikir tepat dan logis
7. Bahasa : ekspresi pemikiran manusia melalui ujaran / tulisan
8. Kebutuhan hidup manusia yang mendorong terciptanya ilmu pengetahuan dan teknologi
Disini terdapat 2 kutub struktur ilmu pengetahuan, yaitu :
a. Kesadaran / subjek (S) : berperan sebagai yang menyadari atau mengetahui
b. Objek (O) : berperan sebagai yang disadari atau diketahui
Teori Kebenaran Korespondensi
Teori ini menyatakan bahwa kebenaran akan terjadi apabila subyek yakin bahwa objek sesuai dengan kenyataannya (subjektif).
contoh : Saya melihat mobil berwarna hijau dan kenyataannya mobil itu memang berwarna hijau.
Teori Kebenaran Koherensi
Teori ini menyatakan bahwa kebenaran akan terjadi apabila ada kesesuaian pendapat dari beberapa subjek terhadap objek (objektif).
contoh : Beberapa dokter merasa yakin dan benar bahwa penyakit pasien itu disebabkan keracunan makanan.
Teori Kebenaran Pragmatik
Teori yang menyatakan bahwa kebenaran akan terjadi apabila sesuatu memiliki kegunaannya.
contoh : AC berguna untuk mendinginkan suhu ruangan.
Teori Kebenaran Konsensus
Teori yang menyatakan bahwa kebenaran konsensus akan terjadi apabila ada kesepakatan yang disertai alasan tertentu.
contoh : Beberapa dokter yang menangani Bapak Gubernur sepakat bahwa ia (pasien) harus dioperasi secepatnya karena penyakit usus buntunya sudah parah.
Teori Kebenaran Semantik
Teori yang menyatakan bahwa kebenaran semantik akan terjadi apabila orang mengetahui dengan tepat tentang arti suatu kata.
contoh : Saya dapat memahami dengan benar dan tepat tulisan di Jurnal Wacana mengenai hubungan masyarakat dengan lingkungan sosial budaya.
Nah, selanjutnya setelah epistemologi, ada lagi nih.... Namanya Kebenaran.
Dalam kehidupan sehari-hari, pastinya kita sudah sering sekali dong ya dengar kata kebenaran? Jadinya sudah tak asing lagi dong...
Tapi.. emang kebenaran itu apa sih? Memang kebenaran itu sungguh-sungguh ada? Kalau pun ada, kebenaran yang sesungguhnya itu apa? Terus, sifat kebenaran itu apa? Subyektif? atau obyektif dan universal? Bisa tidak yah manusia mencapai kebenaran yang obyektif dan universal? Dan bagaimana kita bisa tahu kalau sesuatu itu merupakan kebenaran.
Wah. banyak sekali ya... Bingung? Yah.. namanya juga filsafat, tidak bingung yah aneh :p
Oke, tak usah basa basi lagi ya..
Kebenaran dalam bahasa Yunani itu berarti aletheia. Menurut Plato mengenai kebenaran secara etimologi, aletheia itu berarti "ketaktersembunyian adanya" atau "ketersingkapan adanya". Tapi, secara umum kebenaran itu biasanya dimengerti sebagai kesesuaian antara apa yang dipikirkan dan dinyatakan dengan kenyataan yang sesungguhnya.
Lalu, kebenaran itu ada tidak ya?
Menurut Plato, "selama kita terikat pada "yang ada" dan tidak masuk pada "adanya dari yang ada" kita belum berjumpa dengan kebenaran. Karena, "adanya" itu masih tersembunyi."
Jadi, misalnya kita tahu kalau universitas XXX ada fakultas psikologi. Tapi, kita hanya sekedar tahu saja kalau universitas tersebut punya fakultas psikologi, kita tidak tahu bagaimana dalamnya fakultas psikologi dari universitas tersebut tanpa terjun kedalamnya.
Gimana? Ngerti?*
Sementara, menurut Aristoteles, kebenaran itu lebih memusatkan perhatian pada kualitas pernyataan yang dibuat oleh subyek penahu ketika dirinya menegaskan suatu putusan entah secara afirmatif atau negatif. Ada tidaknya kebenaran dalam putusan yang bersangkutan bersifat afirmatif (menegaskan atau menguatkan; S itu P) atau negatif (S itu bukan P) bergantung pada apakah putusan yang bersangkutan sebagai pengetahuan, dalam arti subyek penahu itu sesuai atau tidak sesuai dengan kenyataan.
Berbeda lagi menurut kaum Positivisme Logis, menyatakan bahwa kebenaran dibedakan menjadi dua, yaitu kebenaran faktual dan kebenaran nalar.
Kebenaran Faktual
Kebenaran tentang ada tidaknya secara faktual di dunia nyata sebagaimana dialami manusia. Biasanya diukur dengan dapat atau tidaknya secara inderawi.
Kebenaran faktual merupakan kebenaran yang menambah khazanah pengetahuan kita tentang alam semesta sejauh dapat kita alami secara inderawi.
Kebenaran faktual kepastiannya tidak pernah mutlak dan tetap diterima sebagai benar sejauh belum ada alternatif pandangan lain yang menggugurkannya.
Kebenaran Nalar
Kebenaran yang bersifat tautologis (pengulangan gagasan) dan tidak menambah penge-tahuan baru mengenai dunia untuk memperoleh pengetahuan yang benar tentang dunia ini.
Kebenaran nalar merupakan kebenaran yang didasarkan pada penyimpulan deduktif dan terdapat dalam logika dan matematika.
Kebenaran nalar bersifat mutlak dan tidak niscaya.
Nah, kalau yang sebelumnya merupakan pendapat kaum Positivisme, sekarang ada lagi nih...
Menurut Thomas Aquinas, kebenaran itu dibagi menjadi dua, yaitu kebenaran Ontologis (Veritas Ontologica) dan kebenaran Logis (Veritas Logica).
Kebenaran Ontologis
Kebenaran yang terdapat dalam kenyataan, entah spiritual atau material (meskipun ada kemungkinan untuk diketahui).
Kebenaran Logis
Kebenaran yang terdapat dalam akal budi manusia si penahu, dalam bentuk adanya kesesuaian antara akal budi dengan kenyataan.
Kemudian, kedudukan kebenaran itu dimana sih?
Menurut pandangan Platonis, kedudukan kebenaran lebih diletakkan dalam obyek atau kenyataan yang diketahui.
Sedangkan, menurut pandangan Aristotelian, kedudukan kebenaran lebih diletakkan dalam subyek yang mengetahui.
Lalu, kaum Eksistensial pun menyatakan bahwa kebenaran (kebenaran eksistensial) merupakan apa yang secara pribadi berharga bagi subyek konkret yang bersangkutan dan pantas untuk dipegang teguh dengan penuh kesetiaan.
Tapi, bagi manusia sebagai makhluk yang terbatas, kebenaran itu sebagai ketersingkapnya kenyataan sebagaimana adanya.
Kemudian, adapun Kesahihan dan Kekeliruan yang terdapat dalam kebenaran. Perlu diper-hatikan bahwa antara kedua hal tersebut berbeda. Pada umumnya, kekeliruan itu menerima sebagai benar apa yang dinyatakan salah atau menyangkal apa yang senyatanya benar.
Nah, kekeliruan ini tentunya mempunyai sebab. Penyebab dari kekeliruan ini misalnya :
1. Sikap terburu-buru dan kurang perhatian pada proses kegiatan mengetahui,
2. Sikap takut salah yang keterlaluan atau sebaliknya sikap yang terlalu gegabah dalam melangkah,
3. Kebingungan akibat emosi, frustasi, perasaan yang mengganggu konsentrasi atau mem-buat seseorang kurang terbuka terhadap bukti-bukti yang tersedia,
4. Prasangka dan bias-bias,
5. Keliru dalam penalaran atau tidak mematuhi aturan-aturan logica.
Sekian yang telah saya pelajari pada pertemuan ke-3. Terimakasih :D
Sumber : Bahan kuliah dari Power Point Universitas Tarumanagara
Oke, tak usah pakai basa-basi lagi yaa, kita langsung masuk saja ke materinya.
Epistemologi berasal dari bahasa Yunani yaitu episteme (pengetahuan) dan logos (ilmu) yang berarti merupakan cabang filsafat yang berkaitan dengan asal, sifat, karakter dan jenis pengetahuan.
Selain itu, epistemologi juga berhubungan dengan hakikat, pengandaian, dasar-dasarnya serta pertanggungjawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki oleh manusia.
Kira-kira pengetahuan manusia diperoleh dari mana ya?
Jadi, pengetahuan tersebut diperoleh manusia melalui akal dan panca indera dengan berbagai metode, yakni metode induktif, deduktif, positivisme, kontemplatis, dialektis.
Oke, sebelumnya saya akan menjelaskan tentang metode yang digunakan untuk memperoleh pengetahuan.
a. Empirisme
Metode yang mendasarkan cara memperoleh pengetahuan dengan melalui pengalaman. Nah, disini John Locke, seorang bapak empirisme Britania, mengatakan bahwa pada waktu manusia dilahirkan akalnya manusia merupakan jenis catatan yang kosong (Tabula Rasa) dan didalam catatan kosong tersebut dicatat pengelaman-pengalaman inderawi.
b. Rasionalisme
Metode yang berpendirian bahwa sumber pengetahuan itu terletak pada akal. Berbeda dengan empirisme, rasionalisme menganggap bahwa pengalaman itu merupakan sejenis perangsang bagi pikiran.
c. Fenomenalisme
Metode ini menyatakan bahwa kebenaran itu di lihat dari gejala - gejala yang ada saat ini. Tokoh fenomenalisme adalah Immanuel Kant.
Masuk ke topik Epistemologi, ya! :D
Epistemologi itu apa sih?
Nah, sekarang saya jelaskan yaa..
Epistemologi itu merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari proses bagaimana pengetahuan itu diperoleh oleh manusia. Tapi bukan hanya sekedar mempelajari saja, epistemologi ini mempelajari proses tersebut secara kritis, normatif dan evaluatif.
Maksudnya dari kritis, normatif dan evaluatif itu apa sihh?
Oke, maksud dari kritis itu adalah dimana seseorang mempertanyakan atau menguji cara kerja, pendekatan, kesimpulan yang ditarik dalam kegiatan kognitif manusia. Kemudian, normatif merupakan sifat menentukan tolak ukur/norma penalaran tentang kebenaran suatu pengetahuan. Sedangkan evaluatif adalah sifat menilai, apakah pengetahuan tersebut dapat dipertanggungjawabkan dan dijamin kebenarannya secara logis dan akurat.
Bagaimana? Mengerti kan? :D
Selanjutnya, terdapat dasar dan sumber suatu pengetahuan, yakni :
1. Pengalaman manusia
2. Ingatan (memory)
3. Penegasan tentang apa yang diobservasi (kesaksian)
4. Minat dan rasa ingin tahu
5. Pikiran dan penalaran
6. Logika berpikir tepat dan logis
7. Bahasa : ekspresi pemikiran manusia melalui ujaran / tulisan
8. Kebutuhan hidup manusia yang mendorong terciptanya ilmu pengetahuan dan teknologi
Disini terdapat 2 kutub struktur ilmu pengetahuan, yaitu :
a. Kesadaran / subjek (S) : berperan sebagai yang menyadari atau mengetahui
b. Objek (O) : berperan sebagai yang disadari atau diketahui
Nah, hubungan antara S dan O ini menghasilkan pengetahuan.
Kemudian, ada juga hal yang tak boleh dilupakan yaitu 5 teori kebenaran:
Teori Kebenaran Korespondensi
Teori ini menyatakan bahwa kebenaran akan terjadi apabila subyek yakin bahwa objek sesuai dengan kenyataannya (subjektif).
contoh : Saya melihat mobil berwarna hijau dan kenyataannya mobil itu memang berwarna hijau.
Teori Kebenaran Koherensi
Teori ini menyatakan bahwa kebenaran akan terjadi apabila ada kesesuaian pendapat dari beberapa subjek terhadap objek (objektif).
contoh : Beberapa dokter merasa yakin dan benar bahwa penyakit pasien itu disebabkan keracunan makanan.
Teori Kebenaran Pragmatik
Teori yang menyatakan bahwa kebenaran akan terjadi apabila sesuatu memiliki kegunaannya.
contoh : AC berguna untuk mendinginkan suhu ruangan.
Teori Kebenaran Konsensus
Teori yang menyatakan bahwa kebenaran konsensus akan terjadi apabila ada kesepakatan yang disertai alasan tertentu.
contoh : Beberapa dokter yang menangani Bapak Gubernur sepakat bahwa ia (pasien) harus dioperasi secepatnya karena penyakit usus buntunya sudah parah.
Teori Kebenaran Semantik
Teori yang menyatakan bahwa kebenaran semantik akan terjadi apabila orang mengetahui dengan tepat tentang arti suatu kata.
contoh : Saya dapat memahami dengan benar dan tepat tulisan di Jurnal Wacana mengenai hubungan masyarakat dengan lingkungan sosial budaya.
Nah, selanjutnya setelah epistemologi, ada lagi nih.... Namanya Kebenaran.
Dalam kehidupan sehari-hari, pastinya kita sudah sering sekali dong ya dengar kata kebenaran? Jadinya sudah tak asing lagi dong...
Tapi.. emang kebenaran itu apa sih? Memang kebenaran itu sungguh-sungguh ada? Kalau pun ada, kebenaran yang sesungguhnya itu apa? Terus, sifat kebenaran itu apa? Subyektif? atau obyektif dan universal? Bisa tidak yah manusia mencapai kebenaran yang obyektif dan universal? Dan bagaimana kita bisa tahu kalau sesuatu itu merupakan kebenaran.
Wah. banyak sekali ya... Bingung? Yah.. namanya juga filsafat, tidak bingung yah aneh :p
Oke, tak usah basa basi lagi ya..
Kebenaran dalam bahasa Yunani itu berarti aletheia. Menurut Plato mengenai kebenaran secara etimologi, aletheia itu berarti "ketaktersembunyian adanya" atau "ketersingkapan adanya". Tapi, secara umum kebenaran itu biasanya dimengerti sebagai kesesuaian antara apa yang dipikirkan dan dinyatakan dengan kenyataan yang sesungguhnya.
Lalu, kebenaran itu ada tidak ya?
Menurut Plato, "selama kita terikat pada "yang ada" dan tidak masuk pada "adanya dari yang ada" kita belum berjumpa dengan kebenaran. Karena, "adanya" itu masih tersembunyi."
Jadi, misalnya kita tahu kalau universitas XXX ada fakultas psikologi. Tapi, kita hanya sekedar tahu saja kalau universitas tersebut punya fakultas psikologi, kita tidak tahu bagaimana dalamnya fakultas psikologi dari universitas tersebut tanpa terjun kedalamnya.
Gimana? Ngerti?*
Sementara, menurut Aristoteles, kebenaran itu lebih memusatkan perhatian pada kualitas pernyataan yang dibuat oleh subyek penahu ketika dirinya menegaskan suatu putusan entah secara afirmatif atau negatif. Ada tidaknya kebenaran dalam putusan yang bersangkutan bersifat afirmatif (menegaskan atau menguatkan; S itu P) atau negatif (S itu bukan P) bergantung pada apakah putusan yang bersangkutan sebagai pengetahuan, dalam arti subyek penahu itu sesuai atau tidak sesuai dengan kenyataan.
Berbeda lagi menurut kaum Positivisme Logis, menyatakan bahwa kebenaran dibedakan menjadi dua, yaitu kebenaran faktual dan kebenaran nalar.
Kebenaran Faktual
Kebenaran tentang ada tidaknya secara faktual di dunia nyata sebagaimana dialami manusia. Biasanya diukur dengan dapat atau tidaknya secara inderawi.
Kebenaran faktual merupakan kebenaran yang menambah khazanah pengetahuan kita tentang alam semesta sejauh dapat kita alami secara inderawi.
Kebenaran faktual kepastiannya tidak pernah mutlak dan tetap diterima sebagai benar sejauh belum ada alternatif pandangan lain yang menggugurkannya.
Kebenaran Nalar
Kebenaran yang bersifat tautologis (pengulangan gagasan) dan tidak menambah penge-tahuan baru mengenai dunia untuk memperoleh pengetahuan yang benar tentang dunia ini.
Kebenaran nalar merupakan kebenaran yang didasarkan pada penyimpulan deduktif dan terdapat dalam logika dan matematika.
Kebenaran nalar bersifat mutlak dan tidak niscaya.
Nah, kalau yang sebelumnya merupakan pendapat kaum Positivisme, sekarang ada lagi nih...
Menurut Thomas Aquinas, kebenaran itu dibagi menjadi dua, yaitu kebenaran Ontologis (Veritas Ontologica) dan kebenaran Logis (Veritas Logica).
Kebenaran Ontologis
Kebenaran yang terdapat dalam kenyataan, entah spiritual atau material (meskipun ada kemungkinan untuk diketahui).
Kebenaran Logis
Kebenaran yang terdapat dalam akal budi manusia si penahu, dalam bentuk adanya kesesuaian antara akal budi dengan kenyataan.
Kemudian, kedudukan kebenaran itu dimana sih?
Menurut pandangan Platonis, kedudukan kebenaran lebih diletakkan dalam obyek atau kenyataan yang diketahui.
Sedangkan, menurut pandangan Aristotelian, kedudukan kebenaran lebih diletakkan dalam subyek yang mengetahui.
Lalu, kaum Eksistensial pun menyatakan bahwa kebenaran (kebenaran eksistensial) merupakan apa yang secara pribadi berharga bagi subyek konkret yang bersangkutan dan pantas untuk dipegang teguh dengan penuh kesetiaan.
Tapi, bagi manusia sebagai makhluk yang terbatas, kebenaran itu sebagai ketersingkapnya kenyataan sebagaimana adanya.
Kemudian, adapun Kesahihan dan Kekeliruan yang terdapat dalam kebenaran. Perlu diper-hatikan bahwa antara kedua hal tersebut berbeda. Pada umumnya, kekeliruan itu menerima sebagai benar apa yang dinyatakan salah atau menyangkal apa yang senyatanya benar.
Nah, kekeliruan ini tentunya mempunyai sebab. Penyebab dari kekeliruan ini misalnya :
1. Sikap terburu-buru dan kurang perhatian pada proses kegiatan mengetahui,
2. Sikap takut salah yang keterlaluan atau sebaliknya sikap yang terlalu gegabah dalam melangkah,
3. Kebingungan akibat emosi, frustasi, perasaan yang mengganggu konsentrasi atau mem-buat seseorang kurang terbuka terhadap bukti-bukti yang tersedia,
4. Prasangka dan bias-bias,
5. Keliru dalam penalaran atau tidak mematuhi aturan-aturan logica.
Sekian yang telah saya pelajari pada pertemuan ke-3. Terimakasih :D
Sumber : Bahan kuliah dari Power Point Universitas Tarumanagara
Metafisika dan Aksiologi
Pada awalnya, filsafat itu mencakup semua ilmu pengetahuan. Seiring perkembangannya, filsafat menjadi semakin rasional dan sistematis.
Kok bisa?
Hal ini disebabkan karena semakin bertambah luas dan besarnya pengetahuan manusia, jadi filsafatpun semakin bertambah luas pula. Dengan bertambah luasnya filsafat ini, masing-masing ilmu pengetahuan dari filsafat pun mulai memisahkan diri. Inilah yang disebut dengan Cabang Filsafat.
Kamis, 18 September 2014
APAKAH FILSAFAT ITU??????
Menurut kalian para pembaca, filsafat itu apa sihhhh??
Asing ga waktu ngedenger kata "filsafat"?
Mungkin kesan pertama kalian waktu mendengar kata filsafat seperti "wah kayaknya susah nih..", "hapalannya kayaknya banyak nih..", "pasti ngebosenin..".
Saya pikir itu tidak jauh beda dengan kesan pertama saya ketika mendengar kata filsafat.
Nah, daripada kita cuman nilai sesuatu dari cover/namanya saja tanpa tahu bagaimana isi dalamnya, yuk kita masuk ketopik "Apakah Filsafat Itu?"
Jadi, sesuai dengan apa yang telah dijelaskan oleh pak Raja dan pak Mikha sebelumnya,
Filsafat (Philosophia) dalam bahasa Yunani yaitu Philos (kekasih sahabat) dan Sophia (kebijaksanaan / kearifan / pengetahuan). Yang artinya, filsafat adalah mencintai kebijaksanaan / sahabat pengetahuan.
Selain itu, ada juga defenisi filsafat menurut para tokoh, seperti :
• Filsuf Pra-Sokratik
• Plato
• Aristoteles
• Rene Descartes
• William James
Dimana ada teori, disitu pasti terdapat asal-muasal dari teori tersebut. Filsafat ini sendiri dilahirkan oleh 4 hal, yakni :
• Kekaguman/Keheranan (thaumasia)
• Ketidakpuasan
• Hasrat Bertanya
• Keraguan (aporia)
Sifat berpikir radikal, mencari asas, memburu kebenaran dan berpikir rasional merupakan sifat dasar dari filsafat. Kemudian, filsafat ini juga berperan penting, yaitu sebagai :
• Pendobrak
Dimana filsafat mendobrak pintu tradisi yang sakral dan tidak bisa diganggu gugat.
• Pembebas
Filsafat ini dapat membebaskan manusia dari cara berpikir yang mitis maupun mistis.
• Pembimbing
Filsafat akan membimbing manusia agar dapat berpikir secara sistematis dan logis.
Setelah membahas tentang "Apakah itu Filsafat?", kami diberi tugas untuk membuat mindmap tentang SEJARAH FILSAFAT di Cina, India dan Barat dalam bentuk kelompok. Saya sendiri merupakan kelompok V dari gabungan kelas A dan B. Anggota kelompok V antara lain Jeannyfer (705140055), Aditya (705140036), Maya (705140065), Bonita (705140035), Hendra (705140045), Lina (705140074) dan saya sendiri Cherika (705140165).
Ini dia hasil teamwork dari kelompok V! :D
Jeannyfer Tedja
Jeannyverts.blogspot.com
Maya Lestari Wijaya
mayawijaya.blogspot.com
Bonita Pitasari
bonitapitasariloka.blogspot.com
Aditya Putra Chandra
adityaputrachandra15.blogspot.com
Lina
biksuni74lina.blogspot.com
Hendra Hosen
hendrahosen.blogspot.com
Terimakasih :)
Introduction!
Hallooo. Selamat datang di halaman blog saya.
Sebelumnya, saya mau memperkenalkan diri saya terlebih dahulu yaaaaaaa...
Oke,
Nama saya Cherika, lahir di Baganbatu tanggal 15 Maret 1998. Saya berasal dari SMA Tarsisius Vireta dan sekarang merupakan seorang mahasiswi Psikologi di Universitas Tarumanagara angkatan 2014 dengan NIM 705140165.
Alasan saya membuat blog ini adalah adanya tugas individu yang diberikan oleh Dosen filsafat kepada saya dan mahasiswa/i lainnya untuk membuat review tentang apa saja yang telah kami pelajari dari pembahasan-pembahasan mengenai filsafat pada pertemuan sebelumnya.
Mungkin cukup perkenalan singkat dari saya. Terimakasih ;)
Sebelumnya, saya mau memperkenalkan diri saya terlebih dahulu yaaaaaaa...
Oke,
Nama saya Cherika, lahir di Baganbatu tanggal 15 Maret 1998. Saya berasal dari SMA Tarsisius Vireta dan sekarang merupakan seorang mahasiswi Psikologi di Universitas Tarumanagara angkatan 2014 dengan NIM 705140165.
Alasan saya membuat blog ini adalah adanya tugas individu yang diberikan oleh Dosen filsafat kepada saya dan mahasiswa/i lainnya untuk membuat review tentang apa saja yang telah kami pelajari dari pembahasan-pembahasan mengenai filsafat pada pertemuan sebelumnya.
Mungkin cukup perkenalan singkat dari saya. Terimakasih ;)
Langganan:
Komentar (Atom)











