Perkembangan Moral pada Anak
Masyarakat
tidak dapat berfungsi dengan baik bila tidak ada aturan yang mengatur. Aturan berfungsi
untuk memberitahukan kepada mereka bagaimana cara bertingkah laku, bagaimana
cara menghindari sesuatu yang dapat menyakiti orang lain, dan sebagainya. Namun,
setiap orang pasti memiliki pemahaman yang berbeda-beda mengenai hal tersebut,
termasuk anak-anak. Hal ini menunjukkan adanya perkembangan moral dalam diri
individu. Perkembangan merupakan suatu proses yang terjadi pada setiap individu
baik secara fisik maupun non-fisik. Perkembangan berarti perubahan ke arah yang
lebih kompleks akibat kematangan maupun pengalaman.
Untuk itu penulis akan mulai membahas
tentang pengertian perkembangan, pengertian moral, faktor yang mempengaruhi
perkembangan, fase-fase dalam perkembangan, tingkatan perkembangan, peran
orangtua dalam perkembangan anak, dan sikap orangtua yang perlu diperhatikan.
Pengertian perkembangan
Seifert &
Hoffnung mengemukakan bahwa perkembangan adalah perubahan jangka panjang pada
pertumbuhan seseorang, pola berpikir, hubungan sosial, dan kemampuan motorik (Mubin
& Cahyadi, 2006). Sedangkan pengertian perkembangan menurut Chaplin yaitu perubahan
yang berkesinambungan, pertumbuhan, perubahan dalam bentuk dan dalam integrasi
dari bagian-bagian jasmaniah ke dalam bagian-bagian fungsional, dan kedewasaan
atau kemunculan pola-pola asasi dari tingkah laku yang tidak dipelajari (Mubin
& Cahyadi, 2006). Yang terakhir, menurut H. M. Arifin perkembangan
menunjukkan perubahan-perubahan bagian tubuh dan integrasi berbagai bagiannya
ke dalam satu kesatuan fungsional bila pertumbuhan berlangsung (Mubin & Cahyadi,
2006).
Maka dapat disimpulkan bahwa perkembangan
adalah suatu proses perubahan ke arah yang lebih kompleks pada fisik, jasmani,
maupun tingkah laku dan dialami oleh individu sejak lahir.
Pengertian moral
Secara etimologis, moral berasal dari kata
Latin yaitu MOS (MORIS), yang berarti adat istiadat, kebiasaan, tata cara
kehidupan (Gunarsa & Gunarsa, 2008).
Sedangkan, menurut Kamus Besar
Psikologi, moral merupakan sesuatu yang menyinggung ahlak, moril, tingkah laku
yang susila (Kamus Besar Psikologi, 1981).
Maka dapat disimpulkan bahwa moral adalah
sesuatu yang mengacu pada benar salah, baik dan benar suatu tingkah laku.
Faktor-faktor yang mempengaruhi
perkembangan Anak
Faktor yang
mempengaruhi perkembangan terdiri dari tiga golongan pendapat, yaitu: (a)
golongan nativisme, perkembangan individu itu semata-mata ditentukan oleh
faktor-faktor yang dibawa sejak lahir, dimana manusia yang dilahirkan dibekali
(membawa) bakat-bakat, baik yang berasal dari orangtuanya, nenek moyang atau
jenisnya, apabila pembawaannya baik maka akan baik pula anak itu kelak,
demikian juga sebaliknya, tokoh terkemuka aliran ini adalah Schopenhauer,
Plato, Descartes, dan beberapa ahli kriminologi yang mendukungnya; (b) golongan
empirisme, dalam golongan ini mengemukakan bahwa manusia lahir dalam keadaan
netral, tidak memiliki pembawaan apa pun, tokoh aliran empirisme ini adalah
John Locke dan diperkuat oleh Sigaud dan Mac Aulife dengan penyelidikannya; dan
(c) golongan konvergensi, bahwa baik bakat/keturunan maupun lingkungan
kedua-duanya memainkan peranan penting dalam pembentukan dan perkembangan anak,
took konvergensi ini adalah William Stren, dan disempurnakan oleh M. J.
Langeveld (Mubin & Cahyadi, 2006).
Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan moral anak. Perkembangan moral anak dipengaruhi
oleh beberapa faktor, yaitu: (a) lingkungan rumah, (b) lingkungan sekolah, (c)
lingkungan teman-teman sebaya, (d) segi keagamaan, dan (e) aktivitas-aktivitas
rekreasi (Gunarsa, 1995).
Fase-fase dalam perkembangan moral
Perkembangan
moral anak terbentuk melalui fase-fase atau periode-periode, yaitu: (1)
moralitas pada anak 3 tahun, pada masa ini anak masih terlalu muda secara
intelek untuk menyadari dan mengerti bahwa sebuah tingkah laku adalah tidak
baik, kecuali bilamana hal itu menimbulkan perasaan sakit, ia juga akan
mengetahui perbuatan apa yang diperbolehkan dan perbuatan apa yang tidak
disetujui; (2) moralitas pada anak 3-6 tahun, pada masa ini anak tidak lagi
terus-menerus diterangkan mengapa perbuatan ini salah atau benar, tetapi ia
ditunjukkan bagaimana harus bertingkah laku; dan (3) moralitas pada anak umur 6
sampai remaja, pada masa ini anak belajar bertingkah laku sesuai dengan apa
yang diharapkan oleh kelompoknya, kemampuannya telah cukup berkembang untuk
dapat membedakan macam-macam nilai moral, serta mengembangkan nilai-nilai moral
sebagai hasil pengalaman-pengalaman di rumah dan dalam hubungannya dengan
anak-anak lain (Gunarsa, 1995).
Tingkatan perkembangan moral
Kohlberg (dikutip dalam Wahyuning, Jash,
& Rachmadiana, 2003) mengemukakan bahwa ada tiga (3) tingkatan perkembangan
moral dan masing-masing tingkatan memiliki dua (2) tahapan, yaitu:
Tingkatan
pertama (preconventional morality).
Dalam tingkatan pertama ini, anak-anak cenderung menghindari hukuman. Tahapan
yang terdapat pada tingkatan ini adalah: (a) obedience and punishment orientation, tahap di mana anak akan
berbuat baik untuk menghindari hukuman; dan (b) naïve hedonistic and instrumental orientation, tahap di mana
tingkah laku moral anak tergantung pada apakah sesuatu itu memuaskan
keinginannya atau tidak (Wahyuning et al., 2003).
Tingkatan
kedua (conventional). Dalam
tingkat ini anak-anak lebih memfokuskan diri pada apa yang diharapkan oleh
orang lain. Tahapan yang terdapat pada tingkatan ini adalah: (a) good boy nice girl morality, di mana
seseorang akan menaruh perhatiannya pada harapan-harapan sosial yang ada di
sekitarnya; dan (b) authority and
morality, tahap di mana seseorang menganggap nilai moral baik/buruk
merupakan suatu kewajiban dengan tujuan menjaga keseimbangan dan ketertiban
masyarakat (Wahyuning et al., 2003).
Tingkatan
ketiga (post conventional). Dalam
tingkatan ini seseorang sudah dapat mengerti aturan sosial yang ada, kemudian
ia akan menentukan apakah aturan tersebut telah sesuai dengan aturan moral atau
tidak. Tahapan yang terdapat pada tingkatan ini adalah: (a) social legality, seseorang akan
mengikuti aturan sosial tersebut jika sesuai dengan aturan moral dan sebaliknya;
dan (b) morality of individual principles
and conscience, tindakan pada tahapan ini dianggap sebagai keputusan kata
hatinya (Wahyuning et al., 2003).
Peran orangtua
Peran sebagai
orangtua dalam perkembangan seorang anak menuntut orangtua untuk berbuat
sesuatu bagi si anak, orangtua harus berbuat sesuatu untuk memperkembangkan si
anak secara keseluruhan ke arah kepribadian atau tingkah laku yang diharapkan
dengan memberikan pendidikan dasar sebelum masa sekolah, membantu anak untuk
mencapai kebutuhannya baik dari suduh organis-psikologi, maupun kebutuhan
psikis (Gunarsa, 2007).
Sikap orangtua yang perlu mendapat
perhatian
Beberapa sikap
yang perlu diperhatikan oleh orang tua, yaitu: (1) konsistensi dalam mendidik
dan mengajar anak-anak, (2) sikap orangtua dalam keluarga, (3) penghayatan
orangtua akan agama yang dianutnya, dan (4) sikap konsekuen dari orangtua dalam
mendisiplin anaknya (Gunarsa & Gunarsa, 1995).
SIMPULAN
Perkembangan
adalah suatu proses perubahan ke arah yang lebih kompleks pada fisik, jasmani,
maupun tingkah laku dan dialami oleh individu sejak lahir, sementara moral
adalah sesuatu yang mengacu pada benar salah, baik dan benar suatu tingkah
laku. Jadi, dapat disimpulkan bahwa perkembangan moral adalah suatu perubahan
yang terus berlanjut pada tingkah laku seseorang yang mengacu pada benar salah,
baik dan benar.
Faktor-faktor yang mempengaruhi
perkembangan anak digolongkan berdasarkan pendapat dari 3 golongan, yaitu
golongan nativisme, golongan empirisme, dan golongan konvergensi. Perkembangan
moral anak dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor yang terdiri dari faktor
lingkungan rumah, faktor lingkungan sekolah, faktor lingkungan teman-teman
sebaya, faktor segi keagamaan, dan faktor aktivitas-aktivitas rekreasi.
DAFTAR PUSTAKA
Chaplin, C. P.
(1995). Kamus Lengkap Psikologi. (K.
Kartono, Penerj.). Jakarta: RajaGrafindo Persada. (Karya asli diterbitkan pada
1981)
Gunarsa, S. D.
(1995). Psikologi perkembangan: Beberapa
aspek moralitas pada anak. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
Gunarsa, S.
D., & Gunarsa, Y. S. (20). Psikologi
perkembangan anak dan remaja: Perkembangan aspek moral dan sosial pada anak. Jakarta:
BPK Gunung Mulia.
Mubin, &
Cahyadi, A. (2006). Psikologi
perkembangan: Faktor-faktor dan tugas
perkembangan. Ciputat: Quantum Teaching.
Mubin, &
Cahyadi, A. (2006). Psikologi
perkembangan: Manfaat mempelajari psikologi perkembangan. Ciputat: Quantum
Teaching.
Gunarsa, S. D.
(2007). Psikologi perkembangan.
Jakarta: BPK Gunung Mulia.
Wahyuning, W.,
Jash, & Rachmadiana, M. (2003). Mengkomunikasikan
moral kepada anak: Apa itu perkembangan moral?, Jakarta: Elex Media
Komputindo.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar