Halloooooo, bertemu lagi dengan saya pada pembahasan materi hari ke-4! :D
Kali ini materinya agak banyak nihhh, ada subyektivisme, obyektivisme, konfirmasi & inferensi, logika dan critical thinking :O. Tapi, semoga kalian para pembaca enjoy yaaa, semoga juga tidak mengantukkk dan buat yang mengantukk... silahkan minum kopi terlebih dahulu :p.
Oke! Kita mulai saja yaaaa, pertama saya akan membahas SUBYEKTIVISME dan OBYEKTIVISME!
Subyektivisme itu apa sih? Obyektivisme itu apa sih?
Pada pembahasan sebelumnya, subyek dan obyek sudah sempat dibahas kan? Jadi, sudah tidak asing yaa :p
SUBYEKTIVISME
: menekankan pada diri sendiri atau si pengamat
Ciri-ciri pendekatan subyektivisme, yaitu :
- Menggagas pengetahuan sebagai suatu keadaan mental yang khusus (semacam kepercayaan istimewa) ; misalnya sejarah atau kepercayaan-kepercayaan lain.
- Titik tolak pengetahuan dari data inderawi diri sendiri adalah pengalaman subyektif.
- Prinsip subyektif tentang alasan cukup, karena pengalaman bersifat personal, benar secara pasti dan meyakinkan karena berlaku sebagai pengetahuan langsung dari diri subyek.
Seorang tokoh dalam pendekatan subyektivisme, Rene Descartes mengatakan bahwa Cogito ergo sum, "saya berpikir maka saya ada".
Ketika Descartes berbicara mengenai berpikir, ia tidak bermaksud secara eksklusif pada penalaran saja, tapi melihat, mendengar, merasa, senang atau sakit, kehendak masuk dalam kegiatan berpikir.
Eits, selain Rene Descartes, ada lagi tokoh lain yang mengemukakan pendapatnya, seperti realisme Epistemologis berpendapat bahwa kesadaran menghubungkan saya dengan "apa yang lain" dari diri saya. Sementara, idealisme epistemologis berpendapat bahwa setiap tindakan mengetahui berakhir di dalam suatu ide, yang merupakan suatu peristiwa subyektif murni. Sesudah Descartes, banyak filsuf yang mengandaikan bahwa satu-satunya hal yang dapat kita ketahui dengan pasti adalah diri kita sendiri dan kegiatan sadar kita.
Pengetahuan tentang diri sendiri merupakan pengetahuan langsung, sementara pengetahuan tentang sesuatu "yang bukan aku" merupakan pengetahuan tidak langsung.
Berbicara tentang subyektivisme, ada lagi nih yang namanya Skeptisisme, dimana kita tidak pernah tahu tentang apa pun. Skeptisisme ini juga meragu-ragukan kemungkinan bahwa manusia bisa mengetahui sesuatu. Mengapa? Karena tidak ada bukti yang cukup bahwa manusia benar-benar tahu tentang sesuatu. Jadi mereka menganggap bahwa mustahil kalau manusia mencapai pengetahuan tentang sesuatu. Nah! Descartes menolak skeptisme yang justru membawanya ke arah subyektivisme.
Kemudian, Obyektivisme! Apa pengertiannya?
Langsung saja yaa..
Obyektivisme adalah suatu pandangan yang menekankan bahwa butir-butir pengetahuan manusia, dari soal yang sederhana sampai teori yang kompleks. Obyektivisme ini mempunya sifat dan ciri yang melampaui (di luar) keyakinan dan kesadaran individu (pengamat).
Dalam obyektivisme, pengetahuan diperlakukan sebagai sesuatu yang berada diluar ketimbang di dalam pikiran manusia.
Pendukung pandangan ini adalah Popper, Latatos dan Marx.
Obyektivisme beranggapan bahwa tolak ukur suatu gagasan berada pada objeknya. Jadi, obyektivisme merupakan pandangan yang menganggap bahwa segala sesuatu yang dipahami adalah tidak tergantung pada orang yang memahami.
3 pandangan dasar obyektivisme :
1. Kebenaran itu independen terlepas dari pandangan subjektif,
2. Kebenaran itu datang dari bukti faktual,
3. Kebenaran hanya bisa didasari dari pengalaman inderawi.
Nah, obyek-obyek itu bersifat umum, dalam arti bahwa obyek yang sama dapat dipersepsikan oleh pengamat yang jumlahnya tidak terbatas. Obyek-obyek itu juga bersifat permanen, baik untuk dipersepsikan atau pun tidak. Jadi, persepsi itu tidak mengubah sedikit pun obyek.
Oleh karena itu, untuk mempercayai kebenaran kesaksian inderawi, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi, yaitu :
a. Obyek harus sesuai dengan jenis indera kita. Nah, seperti warna infra merah, warna tersebut tidak cocok bagi indera kita.
b. Organ indera harus normal dan sehat.
Misalnya buta, tuli atau buta warna, tidak dapat melakukan penginderaan secara obyektif.
c. Karena obyek ditangkap melalui medium, maka medium itu harus ada.
Misalnya, warna akan di tangkap indera dengan tepat apabila di bawah sinar matahari dari pada di bawah sinar merah yang digunakan untuk mencetak foto.
Disamping itu, obyek juga dibedakan menjadi 2, yaitu :
+ Obyek khusus : data yang ditangkap oleh satu indera ; contoh: warna, suara, bau.
+ Obyek umum : data yang dapat ditangkap oleh lebih dari satu indera ; contoh: keluasan dan gerakan yang dapat dilihat dan diraba atau oleh indera lainnya.
Sekian materi tentang subyektivisme dan obyetivisme!
Sampai ketemu dimateri selanjutnyaaa :D
Kemudian, Obyektivisme! Apa pengertiannya?
Langsung saja yaa..
Obyektivisme adalah suatu pandangan yang menekankan bahwa butir-butir pengetahuan manusia, dari soal yang sederhana sampai teori yang kompleks. Obyektivisme ini mempunya sifat dan ciri yang melampaui (di luar) keyakinan dan kesadaran individu (pengamat).
Dalam obyektivisme, pengetahuan diperlakukan sebagai sesuatu yang berada diluar ketimbang di dalam pikiran manusia.
Pendukung pandangan ini adalah Popper, Latatos dan Marx.
Obyektivisme beranggapan bahwa tolak ukur suatu gagasan berada pada objeknya. Jadi, obyektivisme merupakan pandangan yang menganggap bahwa segala sesuatu yang dipahami adalah tidak tergantung pada orang yang memahami.
3 pandangan dasar obyektivisme :
1. Kebenaran itu independen terlepas dari pandangan subjektif,
2. Kebenaran itu datang dari bukti faktual,
3. Kebenaran hanya bisa didasari dari pengalaman inderawi.
Nah, obyek-obyek itu bersifat umum, dalam arti bahwa obyek yang sama dapat dipersepsikan oleh pengamat yang jumlahnya tidak terbatas. Obyek-obyek itu juga bersifat permanen, baik untuk dipersepsikan atau pun tidak. Jadi, persepsi itu tidak mengubah sedikit pun obyek.
Oleh karena itu, untuk mempercayai kebenaran kesaksian inderawi, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi, yaitu :
a. Obyek harus sesuai dengan jenis indera kita. Nah, seperti warna infra merah, warna tersebut tidak cocok bagi indera kita.
b. Organ indera harus normal dan sehat.
Misalnya buta, tuli atau buta warna, tidak dapat melakukan penginderaan secara obyektif.
c. Karena obyek ditangkap melalui medium, maka medium itu harus ada.
Misalnya, warna akan di tangkap indera dengan tepat apabila di bawah sinar matahari dari pada di bawah sinar merah yang digunakan untuk mencetak foto.
Disamping itu, obyek juga dibedakan menjadi 2, yaitu :
+ Obyek khusus : data yang ditangkap oleh satu indera ; contoh: warna, suara, bau.
+ Obyek umum : data yang dapat ditangkap oleh lebih dari satu indera ; contoh: keluasan dan gerakan yang dapat dilihat dan diraba atau oleh indera lainnya.
Sekian materi tentang subyektivisme dan obyetivisme!
Sampai ketemu dimateri selanjutnyaaa :D

wooww ini baru bener-bener ringkas cher hahaha jadi tau intinya deh hehehe 88 ya :D
BalasHapusmakasih jeannyyy :D
Hapuswaw speechless haha
BalasHapus88
thankyouu
Hapushmmm singkat banget yaaa hahahahah
BalasHapus80 ya cher
belum selese hen wkwk makasih
Hapuscherika ini ringkas diatas segala ringkas ^^ 82 for you !
BalasHapusini belum selese angel wkwk makasih yaa
Hapusmantappp singkat tapi bias dimengerti 87 ya cher
BalasHapusthankyou ditttt
Hapusmakasih bonitaaa!!!
BalasHapus